Pringsewu, Koridor 98.com-Pekon Ambarawa Timur, Kabupaten Pringsewu terpilih mewakili Provinsi Lampung dalam membagikan praktik baik pencegahan stunting melalui berbagai strategi dalam rangka penyelamatan 1000 HPK melalui daring dari Kantor Bupati Pringsewu, Senin (05/6/2023.
Diketahui, kegiatan bertajuk Webinar Praktik Baik Desa/Kelurahan Bebas Stunting (De’Best)1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) tersebut diselenggarakan oleh Direktorat Bina Keluarga Balita dan Anak BKKBN Dalam rangka percepatan penurunan stunting melalui komitmen pemenuhan target desa/kelurahan bebas stunting melalui praktik baik di desa.
Turut hadir dan berikan sambutan, Ketua Umum Persatuan Istri Tentara (Persit) Kartika Chandra Kirana, Ny. Rahma Dudung Abdurachman menjelaskan, bahwa stunting merupakan gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang. ditandai dengan tinggi badan tidak sesuai dengan umurnya, yang disebabkan oleh kekurangan gizi sejak ibu mengandung sampai pada masa awal setelah bayi lahir, terutama pada 1000 HPK Kemudian, Ketua Persit mengungkapkan, upaya percepatan penurunan stunting telah tertuang dalam program kerja dan anggaran Persit yaitu percepatan revitalisasi posyandu hebat binaan Persit melalui pendataan ulang posyandu, peningkatan sarana prasarana, reevaluasi kinerja posyandu sesuai indikator yang berlaku, reklasifikasi strata posyandu, optimalisasi peran faskes tingkat pertama TNI da dalam supervisi program monev data laporan posyandu.
Lebih lanjut, Ketua Persit menambahkan bahwa Percepatan Penurunan stunting dilaksanakan secara holistik, integratif,dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi di antara Pemerintah, Swasta, Organisasi, Lembaga, Perguruan Tinggi, Media Massa dan yang lainnya. ia juga mengungkapkan target desa/kelurahan bebas stunting telah di tetapkan sebesar 100% di tahun 2024. untuk mewujudkan hal tersebut, komitmen dan aksi Bersama dalam mengawal 1000 HPK, Persit melalui 824 unit posyandu binaan sudah menyedikan ragam pelayanan.
Ketua Persit juga menyatakan kesiapan pihaknya dalam mendukung BKKBN untuk percepatan penurunan stunting di Indonesia. salah satunya melalui penyebaran pesan bangga kencana khususnya yang berkaitan dengan pembinaan ketahanan keluarga sehingga dapat tersampaikan pada seluruh lapisan masyarakat.
Ketua Persit juga menyatakan pihaknya turut melakukan pencegahan stunting di lingkup organisasi Persit, salah satunya, calon persit yg akan menikah harus terlebih dulu melakukan screening terhadap kesehatannya karena hal tersebut akan berdampak terhadap kualitas anak anaknya kelak. dia juga menambahkan bahwa pelayanan tersebut tidak hanya berfokus pada anggota persit, tapi bekerja sama dengan organisasi wanita lain dan pihak pihak terkait.
Memberikan arahan sekaligus membuka kegiatan, Kepala BKKBN, Dr. (H.C) dr. Hasto Wardoyo, Sp.O.G. (K) menyampaikan ucapan terimakasih terhadap pihak pihak yang telah turut terlibat dalam kegiatan tersebut. dia juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua Persit yang telah menggerakan anggota Persit dan Babinsa sampai ke tingkat Desa/Kelurahan dalam upaya pencegahan stunting.
Kemudian, Kepala BKKBN juga menekankan tentang pentingnya pencegahan stunting melalui pendekatan keluarga beresiko stunting. dikatakan dalam kegiatan tersebut, pendampingan, konseling dan pemeriksaan yang dilakukan mulai tiga bulan sebelum menikah untuk memastikan setiap calon pengantin atau calon pasangan usia subur berada dalam kondisi ideal untuk menikah dan hami tengah dilakukan oleh tim pendamping keluarga di seluruh Indonesia.
“Mereka yang mau menikah harus secara serius menyiapkan prakonsepsi. prekonsepsi yang murah hanya periksa HB, minum tablet tambah darah dan asamfolat, dan ini harus dipahami sejak sebelum menikah dan hamil” kata Kepala BKKBN.
Kemudian Kepala BKKBN juga mengajak Kepala Desa/Kelurahan untuk ikut serta dalam sosialisasi dan edukasi mengenai 1000 HPK. yaitu periode yang penting yang dimulai sejak 270 hari pada masa kehamilan kemudian dilanjutkan 730 hari setelah bayi lahir atau saat anak berusia 2 tahun, guna mewujudkan tumbuh kembang anak usia dini secara optimal.
“Saya mengajak seluruh kepala desa untuk mensosialisasikan 1000 HPK, salah satunya jangan menikah terlalu muda, kalo belum 20 tahun ukuran panggul belum cukup, oleh karena itu masih sempit dan berbahaya bisa beresiko pada ibu dan bayi waktu persalinan” Jelas Kepala BKKBN.
Kepala BKKBN juga menambahkan peran Pemerintah Desa dalam membangun lingkungan yang bersih dan sehat, karena menurutnya, kondisi lingkungan yang baik merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam pencegahan stunting.
Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi, dr. Nurizky Permanajati, M.H. mengungkapkan, terpilihnya pekon Ambarawa Timur mewakili Provinsi Lampung merupakan bentuk dari kolaborasi antara BKKBN Lampung, Pemerintah Daerah dan mitra terkait dengan semangat gotong royong serta memanfaatkan kearifan lokal dan sumber daya alam setempat.
Kemudian ia juga menyatakan kesiapan pihaknya dalam berkolaborasi dengan Pemerintah Daerah dan mitra terkait dalam percepatan penanganan Stunting, ia menegaskan raihan sukses di pekon Ambarawa Timur akan terus ditingkatkan hingga desa/kelurahan lain.
Turut hadir secara daring pada kegiatan tersebut Deputi Bidang Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga, Nopian Andusti, SE., MT, Direktur Jenderal Bina Pemerintahan Desa, Kementerian Dalam Negeri, kemudian, menyaksikan dari Kantor Bupati Pringsewu, Sekretaris Daerah Kabupaten Pringsewu Heri Iswahyudi, beserta jajaran, Perwakilan BKKBN Provinsi Lampung, Dinas P3AP2KB Kabupaten Pringsewu dan Mitra terkait.(rls)
