Oleh: H. A. Darwin Ruslinur.
*PENANGANAN* banjir di Kota Bandarlampung tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus dilakukan secara komprehensif, terintegrasi dan berkelanjutan.
Ada banyak hal penyebab banjir di Bandarlampung sebagai Ibukotanya Prov. Lampung, antara lain curah hujan cukup tinggi, dan luapan sungai atau drainase yang tidak mampu menampung debit air.
Drainase kota yang tersumbat oleh sampah dan sedimen serta kapasitas saluran yang tidak memadai. Disamping itu, alih fungsi lahan dan menyusutnya ruang terbuka yang mempengaruhi daya serap air, serta kurangnya koordinasi tata ruang dengan daerah hulu (berbatasan) yang berdampak luapan air ke Bandarlampung.
Lalu, belum adanya fasilitas penampungan air seperti kolam retensi atau waduk kecil dan sedimentasi di sejumlah sungai. Termasuk belum adanya kajian turunnya permukaan tanah akibat berjibunnya penggalian sumur bor.
Penguatan koordinasi lintas wilayah dengan daerah hulu agar pengelolaan aliran air lebih terpadu dan peningkatan edukasi dan partisipasi masyarakat seperti bergotong-royong membersihkan saluran dan kampanye *tidak membuang sampah* sembarangan, juga perlu ditingkatkan.
Tentu hal ini harus dibarengi dengan se-segera mungkin dilakukan revitalisasi kendaraan truk sampah lengkap dengan container box. “Truk sampah yang ada sa’at ini, rata-rata truk tua alias gawir,” ucap Yohendi, warga Way Halim Permai.
Makanya, kata Yohendi, tak heran bila sampah kerap menumpuk dipinggir jalan karena truk pengangkut sampah rusak, dan harus menunggu selesai perbaikan. “Saya bukan cerita mengada-ada, tapi ini fakta, dan bisa dilihat di perempatan jalan Batam Raya beberapa hari lalu,” tambahnya.
Pemandangan sampah berserakan di jalan ini, bisa juga dilihat di Jl. M. Nur I, tepatnya diapit antara kediaman Rektor Universitas Bandarlampung (UBL) Prof. DR. Ir. H. M. Yusuf S Barusman. MBA, dan kediaman Mantan Gubernur Lampung. Ir. H. Arinal Djunaidi.
Sudah sejak beberapa tahun lalu, Jl. M. Nur I sudah menjadi tempat pembuangan sampah, meskipun setiap pagi/siang truk sampah dari Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kota Bandarlampung mengakutnya untuk dibuang ke TPA Bakung.
Pamong setempat sudah berulangkali mengingatkan agar masyarakat tidak membuang sampah di jalan tsb. Namun, larangan itu tak pernah di gubris, dan sampah terus menumpuk hingga tercecer mengeluarkan aroma busuk.
Semestinya, terhadap permasalahan ini Walikota Bandarlampung tanggap, dan tidak membiarkannya hingga bertahun-tahun. Akan lebih baik, bila di tepi Jl. Sultan Agung (percis di depan Jl. M. Nur I) di tempatkan satu Container Box untuk mencegah agar sampah tidak tercecer.
Masyarakat entah masyarakat darimana yang membuang sampah disitu, bisa terbiasa membuang sampah di Container Box tsb, sehingga lingkungan menjadi bersih.
Pemandangan sampah diberbagai sudut Kota Bandarlampung ini, sepertinya sudah terbiasa dilihat. Bahkan, tak heran bila ada yang menyebut Bandarlampung Kota Tapis Berseri (Tertib, Aman, Patuh, Iman, Sejahtera, Bersih, Sehat, Rapi, dan Indah) berubah menjadi *Kota Sampah Berserakan.*
Masyarakat Kota Bandarlampung berharap agar Walikota Bandarlampung segera melakukan efisiensi terhadap belanja daerah (APBD) dan focus pada skala prioritas pembangunan infra struktur lingkungan, ketimbang harus kucurkan puluhan miliar ke Instansi vertikal yg memang sudah tersedia anggaran belanjanya sendiri.
Banjir di Kota Bandarlampung yang terjadi sejak pukul 18.30 kemarin hingga pagi ini, masih berlangsung. Hampir semua Kecamatan terendam, bahkan di Kelurahan Sepangjaya, Kec. Labuhanratu, sebagian rumah penduduk masih digenangi air.
